Laman

Jumat, 30 November 2012

Cintaku Belum Dewasa


Oleh : Prety Riana Patmawati

Awan gelap menyelimuti indah langit esok itu.Tak satu pun burung berkicau.Mentari tak menampakkan sinarnya.Pagi itu benar-benar berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
“Putt..Putri ayo bangun,”teriak mamaku dari dapur.
“Iya ma,”jawabku dengan sedikit lemas.
“Putri cepat mandi, ganti pakaian dan segera sarapan,” pinta mamaku.
“ iya maaaaaaaaaaaaaaa.......,” jawabku kembali.
Mataku pun masih melek merem, padahal ini sudah pukul 05.30 WIB. Aku bergegas merapikan tempat tidurku. Sebelum aku mandi, aku keluar rumah dulu. Udara yang menyelimuti pagi ini dingin sekali. Aku duduk di kursi teras, rasanya seperti duduk diatas es. Hampir 20 menit aku duduk-duduk di teras rumah. Aku belum mandi dan belum sarapan.Kudengar lagi teriakan mamaku, “Putri... apa kamu lupa? Hari ini adalah hari pertama kamu masuk sekolah barumu, jadijangan sampai terlambat”.
“ Iya ma......” jawabku.
Meskipun hujan aku tetap semangat karena hari itu adalah hari pertama aku bersekolah di SMA Bhakti Bangsa 08. Setelah sekian lama aku bersekolah di SMA Kerta Jaya 04. Aku menikmati sarapanku dan segera berangkat sekolah. Aku berangkat sekolah bersama papa dan kakakku.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di sekolah baruku. Aku berusaha mencari kelasku, berkeliling sekolah. Tiba-tiba aku bertemu dengan salah satu murid. Cewek itu cantik dan berkulit putih.Rambutnya pirang lebat. Dia sungguh baik. Dia mengantarku untuk mencari kelasku
Kami pun berjalan menuju kelas. Kami bercakap-cakap dan berkenalan. Meskipun aku baru saja mengenal Fully, tetapi aku merasakan kedekatanku dengannya. Cowok ganteng, berbadan tegap, gagah dan berkulit putih melintas di hadapan kami. Wajahnya terang dan rambutnya hitam lebat terurai di keningnya.
Akhirnya kami sampai dikelas. Bel pun berbunyi “ting...ting...ting...”. Waktu menunjukan bahwa pelajaran pagi itu akan segera dimulai. Ibu Sella selaku guru pembimbing pun memintaku agar memperkenalkan diri. Aku pun berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri.
“ Perkenalkan nama saya Molly Rianisyah Putri, saya bersal dari SMA Kerta Jaya 04 “.
“Baiklah Putri, silahkan kembali ke tempat duduk. Seperti biasa anak-anak hari ini
kita materi dan besok kita quiss
“ Iya bu.......” jawab semua siswa.
Jam demi jam berlalu. Pelajaran telah usai. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Kulihat cowok yang kutemui tadi pagi. Cowok itu tersenyum padaku dan kami berbincang- bincang. Kami saling berbagi ilmu dan belajar bersama. Tetapi itu semua tak berlangsung lama, “ ting...ting..ting..” bel kembali berbunyi. Aku segera mungambil tas dan bukuku. Kulupakan cowok tersebut dan kutinggalkan dia di perputakaan. Aku pergi tanpa berpamitan. Anehnya meskipun kami bercakap-cakap, tapi kami belum saling mengenal. Aku  menghampiri mobil papaku yang telah menungguku di depan. Kudengar suara Fully dari kejahuan.
“ Putri...nanti sore kamu ada acara gak? Bagaimana kalau kita pergi ke perpustakaan bareng?,” teriak Fully.
“Wah, ide bagus, kalau begitu sampai jumpa nanti sore,”jawabku sambil melambaikan tangan.
Sesampainya di rumah, aku segera naik ke kamar dan berganti pakain. Kunyalakan televisi sambil menikmati makan siangku. Sepiring nasi dan sayur sup kesukaanku. Aku juga bercerita banyak kepada mamaku tentang sekolah baruku.Kemudian aku besiap-siap untuk pergi ke perpustakaan umum. Ku kayuh sepedaku dengan sepenuh tenaga.Teringat akan janjiku kepada Fully.
Akhirnya aku sampai, aku segera masuk dan mencari Fully. Akan tetapi, aku tak menemukan Fully. Kuputuskan untuk mencari buku yang akan aku baca. Berkeliling mencari buku dan mencoba mengambil buku yang berada di rak tinggi. Ku coba untuk meraihnya, sampai-sampai pada beberapa menit datanglah seseorang dan mengambilkan buku itu untukku.
“ Ini untukmu, lain kali kamu bias meminta bantuan kepada penjaga perpus ,” kata cowok tersebut dengan cuek.
Terpikir dalam benakku, “cowok ini baik banget,” aku terdiam dan membisu, seakan tubuhku tak bergerak.
“ Loh kenapa diam?” Tanya kembali cowok itu.
“ Nggak, nggak kok. Kamu kan yang ada di perpustakaan sekolah tadi pagi. Thanks bantuannya, aku terlalu pendek untuk mengambil buku itu, “sambil tersenyum dan meninggalkan cowok itu.
Aku menuju meja dan kutemukan sebuah novel yang berjudul “APA KATA BINTANG”. Tertuliskan nama “Danil Aditya Putra” di cover novel tersebut. Aku sempat berfikir bahwa novel tersebut adalah milik cowok yang tadi menolongku. Tiba-tiba Fully datang dan mengagetkanku.”BRAKKK” jatuhlah novel tersebut. Fully mengambilnya dan bertanya kepadaku, “Loh,  kok ada namanya Danil? Apakah kamu meminjamnya?” tanya Fully dengan nada penasaran.
Tidak, seseorang telah meninggalkan novel tersebut di meja ini, dan aku tidak mengetahui siapa sebenarnya pemilik novel ini, “jawabku dengan cuek.“ Ini miliknya Danil, tertulis jelas nama Danil Aditya Putra di sampul novel tersebut, “ujar Fully “Danil siapa? Ah sudahlah, ayo kita belajar.
“Danil teman sekelas kita. Kalian kan sudah pernah bertemu sebelumnya,” jawab Fully dengan nada keras.
“Husstt…. ini perpustakaan bukan pasar. Jadi jangan bicara keras.
“Opppsss…aku terlalu bersemangat sih. Eh Put, bagaimana kalau habis belajar kita pergi untuk membeli ice-cream?” tanya Fully
“Wah… ide bagus tuh,”
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Saatnya kami pergi membeli ice-cream. Kami bergurau di jalanan. Tak heran bila aku tertawa sangat keras. Fully anaknya lucu dan baik. Dia selalu berusaha membuat teman-temanya tertawa setiap melihat leluconnya. Namun, tanpa kusadari aku terjatuh gara-gara menabrak tong sampah yang ada di pinggir jalan. Dengan segera seseorang menolongku. Lagi-lagi cowok itu, aku heran mengapa selalu dia yang menolongku.
“Kok kamu lagi? mengapa selalu kamu?” tanyaku dengan membentak.
“Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, bukannya marah-marah,” bentak cowok tersebut.
“ Ahh.. sudahlah, kalian ini berisik banget. Lebih baik sekarang kita obati lukamu Put,” kata Fully.
Fully segera mengobati lukaku. Acara untuk membeli ice-cream pun batal. Aku meminta maaf kepada cowok itu. Kami berdua terlibat percakapan dalam beberapa menit. Akhirnya aku mengetahui nama cowok tersebut. Danil Raditya Putra adalah namanya. Ternyata novel yang kutemukan tadi adalah milik cowok itu. Kami saling bertukar nomor handphone dan dia mengantarku pulang.
Sekitar pukul 19.30 WIB, ponselku berbunyi, “KRING...KRING...”. Terlihat di layar ponselku “Danil calling”. Tanpa basa-basi kuangkat telpon itu dan berbicara dengannya. Kuberitahukan bahwa novelnya ada di aku. Aku menceritakan kejadian yang sebenarnya. Telpon terputus, dan aku bergegas tidur karena waktu telah menunjukan 21.30 WIB.
Keesokan harinya, aku begitu bersemangat. Tak seperti biasanya, aku sudah berseragam rapi dan siap untuk berangkat. Padahal hari itu masih nampak pagi. Aku berias dan berkaca. Kuikat rambutku dengan pita bewarna biru serasi dengan warna seragamku. Rasanya aku takmau menunggu lama.Seperti biasa, pelajaran berlangsung menyenangkan. Tetapi aku nampak aneh. Aku melamun sambil tersenyum, seakan terbayang wajah cowok tampan di benakku. Fully pun datang menghampiriku. Karena sudah waktunya untuk pulang, aku segera menuju ke depan untuk menunggu jemputan.
***
Hari demi hari telah berlalu. Sudah enam bulan lebih aku besekolah di SMA Bhakti Bangsa. Kunikmati hari-hariku bersama dengan Danil, Fully dan teman-temanku yang lain. Seperti biasa,sekolah selalu mengadakan summer camp untuk menghabiskan liburan.
Pada hari Minggu kami berangkat menuju tempat perkemahan. Terletak jauh dari kota dan merupakan tempat yang cocok untuk refreshing. Sebuah desa kecil tetapi memiliki keindahan panorama yang luar biasa. Tak heran apabila banyak orang yang pergi untuk bersantai di sana. Setelah selesai membangun tenda, kami menyalakan api unggun untuk menhangatkan tubuh serta menerangi hari yang gelap. Sambil bernyayi teman-temanku menikmati dinginnya angin malam. Ada yang asyik memainkan gitarnya. Dan ada juga yang menikmati santapan makan malamnya. Tetapi tidak dengan aku, aku terdiam. Terpikirkan dalam benakku wajah Danil. Aku tak tahu apa yang terjadi. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Apa aku menyukainya? Ah... tidak mungkin. Tapi kan tidak menuntut kemungkinan kalau aku benar menyukainya. Danil kan anaknya tampan, baik dan juga pintar.
“ Sedangkan aku?” sambil berkaca.
“ Ah,,, aku tidak menyukainya,” teriakku.
“ Heh Put, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Fully menhampiriku.
“Nggak kok, aku ingin bernyanyi,”
“ Nyanyi? Nyanyi lagu apa?”
“ Apa Kata Bintang- Gita Gutawa,”
Kupetik sinar gitarku untuk memulainya. Aku pun segera bernyayi
“ Ku tak tahu apa yang terjadi. Pada hatiku ini, tak ku mengerti. Rasa ini belum pernah ada, tak pernah kurasakan selama ini. Malu-malu aku mengakuinya, karena aku kini belum dewasa. Berjuta cahaya datang padaku, menyayi denganku, nyanyikan lagu tentangnya. Duhai bintang mungkinkah yang kurasa, apakah sudah saatnya. Untukku menyukainya”
“JREEEENG” mengakhiri lagu yang kunyanyikan.
“ Suaramu sungguh indah, aku senang mendengar ketika kamu bernyayi,” kata Danil kepadaku.
“ Sejak kapan kamu berda disini?, terimaksih pujiannya,” jawabku cuek dan pergi meniggalkan Danil dan juga Fully.
“ Lho? mau kemana put?”
Tak kuhiraukan perkataan Danil dan tetap pergi ke tenda.
“ Putri kenapa sih Full?,” tanya Danil kepada Fully temanku.
“ Aku juga tidak tahu Dan, apa kalian habis bertengkar?” ujar Fully.
“ Nggak tuh, tadi pagi kami masih berkomunikasi dengan baik kok.”
“ Emm, ada apa ya dengan Putri? apa dia ada masalah ya?”
“ Aku juga tak tahu Full, coba kamu tanya kepadanya. Aku sangat mengkhawatirkannya,”
“ Etcie... baiklah aku akan bertanya kepadanya dan semoga dia mau bercerita banyak kepadaku.”
“ Terimakasih Full,” ditinggalkannya Fully sambil tersenyum.
Fully pun menghampiriku yang sedang beristirahat di tenda. Dia menggodaku dan berusaha untuk membuat aku tertawa. Fully memang teman yang jail. Aku tahu sebenarnya  dia ingin menenangkan pikiranku supaya aku dapat bercerita kepadanya. Tetapi aku masih tak ingin bercerita, masih kusimpan sendiri tentang apa yang kurasakan. Tiba-tiba Fully bertanya padaku, “ Put, kamu mencintai Danil ya?” pertanyaan yang sungguh sulit untuk kujawab.
“ Apa maksutmu? tidaklah, kami hanya berteman,” jawabku sambil kulempar senyum kepada Fully.
“ Jangan berbohong, aku tahu kok apa yang kamu rasakan. Kamu menyimpan rasa ke dia kan?” desak Fully.
“ Tidak mungkin aku menyukainya, aku tak ingin jatuh cinta. Usiaku masih belum dapat dikatakan dewasa,” jawabku sambil membentak.
“ Tapi Putt, yang namanya rasa cinta itu tidak dapat ditebak kapan datangnya. Kalau aku lihat matamu tidak dapat berbohong, caramu memandangnya jelas berbeda dengan memandang cowok yang lain.”
“ Apa benar yang dikatakan oleh Fully, Putt?,” datanglah Danil dan bertanya kepadaku.
“ Nggak kok,” jawabku agak gemeteran.
“ Iya juga gak papa kok, lagian aku juga udah lama menyimpan rasa kepadamu.”
Diberikannya sekuntum bunga mawar kepadaku. Aku tetap mengelak.
“Nggak ah, berikan mawar itu kepada Fully .”
“ Tapi kan ini buat kamu, kalau kamu memang belum siap untuk mengakuinya, aku tak apa kok. Aku akan menunggumu,” ujar Danil.
Aku terima mawar tersebut dan segera pergi. Kusempatkan untuk memperlihatkan senyuman manisku ke Danil. Sepertinya Danil akan tetap menunngu cintaku. Meskipun bertahun-tahun, dia akan tetap menunggu. Aku yakin itu, karena Danil adalah cowok yang setia. Sebenarnya aku juga menyukainya, tapi aku malu untuk mengakuinya. Kalian tahu kenapa?, karena aku belum cukup dewasa.














APA KATA BINTANG-GITA GUTAWA


Ku tak tahu apa yang terjadi
Pada hatiku ini, tak ku mengerti
Rasa ini belum pernah ada
Tak pernah kurasakan, selama ini.
Malu-malu aku mengakuinya
Karena aku kini belum dewasa.
Berjuta cahaya datang padaku,
Menyayi denganku, nyanyikan lagu tentangnya.
Duhai bintang mungkinkah yang kurasa
Apakah sudah saatnya, untukku menyukainya
Sekarang ku sering melamun
Dan juga ku sering bercermin, oh mengapa ini
Malu-malu aku mengakuinya
Karena aku kini belum dewasa
Berjuta cahaya datang padaku,
Menyayi denganku, nyanyikan lagu tentangnya.
Duhai bintang mungkinkah yang kurasa
Apakah sudah saatnya, untukku menyukainya

Tidak ada komentar: