Oleh : Prety Riana
Patmawati
Awan
gelap menyelimuti indah langit esok itu.Tak satu pun burung berkicau.Mentari
tak menampakkan sinarnya.Pagi itu benar-benar berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
“Putt..Putri
ayo bangun,”teriak
mamaku dari dapur.
“Iya
ma,”jawabku dengan sedikit lemas.
“Putri
cepat mandi, ganti pakaian dan segera sarapan,” pinta mamaku.
Mataku
pun masih melek merem, padahal ini sudah pukul 05.30 WIB. Aku bergegas
merapikan tempat tidurku. Sebelum aku mandi, aku keluar rumah dulu. Udara yang
menyelimuti pagi ini dingin sekali. Aku duduk di kursi teras, rasanya seperti
duduk diatas es. Hampir 20 menit aku duduk-duduk di teras rumah. Aku belum
mandi dan belum sarapan.Kudengar lagi teriakan mamaku, “Putri... apa kamu lupa?
Hari ini adalah hari pertama kamu masuk sekolah barumu, jadijangan sampai
terlambat”.
“
Iya ma......” jawabku.
Meskipun
hujan aku tetap semangat karena hari itu adalah hari pertama aku bersekolah di
SMA Bhakti Bangsa 08. Setelah sekian lama aku bersekolah di SMA Kerta Jaya 04.
Aku menikmati sarapanku dan segera berangkat sekolah. Aku berangkat sekolah
bersama papa dan kakakku.
Beberapa
menit kemudian, aku sampai di sekolah baruku. Aku berusaha mencari kelasku,
berkeliling sekolah. Tiba-tiba aku bertemu dengan salah satu murid. Cewek itu
cantik dan berkulit putih.Rambutnya pirang lebat. Dia sungguh baik. Dia
mengantarku untuk mencari kelasku
Kami
pun berjalan menuju kelas. Kami bercakap-cakap dan berkenalan. Meskipun aku
baru saja mengenal Fully, tetapi aku merasakan kedekatanku dengannya. Cowok
ganteng, berbadan tegap, gagah dan berkulit putih melintas di hadapan kami.
Wajahnya terang dan rambutnya hitam lebat terurai di keningnya.
Akhirnya
kami sampai dikelas. Bel pun berbunyi “ting...ting...ting...”. Waktu menunjukan
bahwa pelajaran pagi itu akan segera dimulai. Ibu Sella selaku guru pembimbing
pun memintaku agar memperkenalkan diri. Aku pun berdiri di depan kelas dan
memperkenalkan diri.
“
Perkenalkan nama saya Molly Rianisyah Putri, saya bersal dari SMA Kerta Jaya 04
“.
“Baiklah
Putri, silahkan kembali ke tempat duduk. Seperti biasa anak-anak hari ini
kita
materi dan besok kita quiss “
“
Iya bu.......” jawab semua siswa.
Jam
demi jam berlalu. Pelajaran telah usai. Aku memutuskan untuk pergi ke
perpustakaan. Kulihat cowok yang kutemui tadi pagi. Cowok itu tersenyum padaku
dan kami berbincang- bincang. Kami saling berbagi ilmu dan belajar bersama.
Tetapi itu semua tak berlangsung lama, “ ting...ting..ting..” bel kembali
berbunyi. Aku segera mungambil tas dan bukuku. Kulupakan cowok tersebut dan
kutinggalkan dia di perputakaan. Aku pergi tanpa berpamitan. Anehnya meskipun
kami bercakap-cakap, tapi kami belum saling mengenal. Aku menghampiri mobil papaku yang telah
menungguku di depan. Kudengar suara Fully dari kejahuan.
“
Putri...nanti sore kamu ada acara gak? Bagaimana kalau kita pergi ke
perpustakaan bareng?,” teriak Fully.
“Wah,
ide bagus, kalau begitu sampai jumpa nanti sore,”jawabku sambil melambaikan
tangan.
Sesampainya
di rumah, aku segera naik ke kamar dan berganti pakain. Kunyalakan televisi sambil
menikmati makan siangku.
Sepiring nasi dan sayur sup kesukaanku. Aku juga bercerita banyak kepada mamaku
tentang sekolah baruku.Kemudian aku besiap-siap untuk pergi ke perpustakaan
umum. Ku kayuh sepedaku
dengan sepenuh tenaga.Teringat
akan janjiku kepada Fully.
Akhirnya aku sampai, aku segera
masuk dan mencari
Fully. Akan tetapi, aku tak menemukan Fully.
Kuputuskan untuk
mencari buku yang akan aku baca. Berkeliling mencari
buku dan mencoba
mengambil buku yang berada di rak tinggi. Ku coba untuk
meraihnya, sampai-sampai pada beberapa menit
datanglah seseorang dan mengambilkan buku
itu untukku.
“ Ini untukmu, lain kali kamu bias meminta
bantuan kepada penjaga perpus ,”
kata cowok tersebut
dengan cuek.
Terpikir dalam benakku, “cowok ini
baik banget,” aku terdiam
dan membisu, seakan tubuhku
tak bergerak.
“ Loh kenapa diam?” Tanya
kembali cowok itu.
“ Nggak, nggak kok. Kamu kan yang ada di perpustakaan
sekolah tadi pagi. Thanks bantuannya, aku terlalu pendek untuk mengambil
buku itu, “sambil
tersenyum dan meninggalkan cowok
itu.
Aku menuju meja
dan kutemukan sebuah
novel yang berjudul “APA KATA BINTANG”. Tertuliskan nama “Danil Aditya
Putra” di cover novel tersebut. Aku sempat berfikir bahwa
novel tersebut adalah
milik cowok yang tadi menolongku.
Tiba-tiba Fully datang
dan mengagetkanku.”BRAKKK” jatuhlah novel tersebut. Fully mengambilnya
dan bertanya kepadaku, “Loh, kok
ada namanya Danil? Apakah kamu meminjamnya?”
tanya Fully dengan nada penasaran.
“Tidak, seseorang telah meninggalkan novel tersebut di meja ini, dan aku tidak mengetahui
siapa sebenarnya pemilik
novel ini, “jawabku dengan
cuek.“ Ini miliknya Danil,
tertulis
jelas nama Danil
Aditya Putra di sampul novel tersebut, “ujar Fully
“Danil siapa? Ah sudahlah, ayo kita belajar.”
“Danil teman sekelas
kita. Kalian kan sudah
pernah bertemu sebelumnya,”
jawab Fully dengan nada keras.
“Husstt…. ini perpustakaan bukan pasar. Jadi
jangan bicara keras.”
“Opppsss…aku terlalu bersemangat sih. Eh Put, bagaimana kalau habis belajar
kita pergi untuk
membeli ice-cream?” tanya Fully
“Wah… ide bagus tuh,”
Tak terasa waktu
berjalan sangat cepat. Saatnya
kami pergi membeli
ice-cream. Kami
bergurau di jalanan. Tak
heran bila aku
tertawa sangat keras. Fully
anaknya
lucu dan baik.
Dia selalu berusaha
membuat teman-temanya tertawa setiap melihat leluconnya.
Namun, tanpa kusadari aku terjatuh gara-gara
menabrak tong sampah yang ada di pinggir
jalan. Dengan segera
seseorang menolongku. Lagi-lagi cowok itu, aku heran
mengapa selalu dia yang menolongku.
“Kok kamu lagi? mengapa selalu kamu?”
tanyaku
dengan membentak.
“Seharusnya kamu berterima kasih
kepadaku, bukannya marah-marah,” bentak cowok tersebut.
“
Ahh.. sudahlah, kalian ini berisik banget. Lebih baik sekarang kita obati
lukamu Put,” kata Fully.
Fully
segera mengobati lukaku. Acara untuk membeli ice-cream pun batal. Aku meminta
maaf kepada cowok itu. Kami berdua terlibat percakapan dalam beberapa menit.
Akhirnya aku mengetahui nama cowok tersebut. Danil Raditya Putra adalah
namanya. Ternyata novel yang kutemukan tadi adalah milik cowok itu. Kami saling
bertukar nomor handphone dan dia
mengantarku pulang.
Sekitar
pukul 19.30 WIB, ponselku berbunyi, “KRING...KRING...”. Terlihat di layar
ponselku “Danil calling”. Tanpa basa-basi kuangkat telpon itu dan berbicara
dengannya. Kuberitahukan bahwa novelnya ada di aku. Aku menceritakan kejadian
yang sebenarnya. Telpon terputus, dan aku bergegas tidur karena waktu telah
menunjukan 21.30 WIB.
Keesokan
harinya, aku begitu bersemangat. Tak seperti biasanya, aku sudah berseragam
rapi dan siap untuk berangkat. Padahal hari itu masih nampak pagi. Aku berias
dan berkaca. Kuikat rambutku dengan pita bewarna biru serasi dengan warna
seragamku. Rasanya aku takmau menunggu lama.Seperti biasa, pelajaran
berlangsung menyenangkan. Tetapi aku nampak aneh. Aku melamun sambil tersenyum,
seakan terbayang wajah cowok tampan di benakku. Fully pun datang menghampiriku.
Karena sudah waktunya untuk pulang, aku segera menuju ke depan untuk menunggu
jemputan.
***
Hari
demi hari telah berlalu. Sudah enam bulan lebih aku besekolah di SMA Bhakti Bangsa.
Kunikmati hari-hariku bersama dengan Danil, Fully dan teman-temanku yang lain.
Seperti biasa,sekolah selalu mengadakan summer
camp untuk menghabiskan liburan.
Pada
hari Minggu kami berangkat menuju tempat perkemahan. Terletak jauh dari kota
dan merupakan tempat yang cocok untuk
refreshing. Sebuah desa kecil tetapi memiliki keindahan panorama yang luar
biasa. Tak heran apabila banyak orang yang pergi untuk bersantai di sana.
Setelah selesai membangun tenda, kami menyalakan api unggun untuk menhangatkan tubuh
serta menerangi hari yang gelap. Sambil bernyayi teman-temanku menikmati
dinginnya angin malam. Ada yang asyik memainkan gitarnya. Dan ada juga yang
menikmati santapan makan malamnya. Tetapi tidak dengan aku, aku terdiam. Terpikirkan
dalam benakku wajah Danil. Aku tak tahu apa yang terjadi. Jantungku berdetak
sangat kencang. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Apa aku menyukainya?
Ah... tidak mungkin. Tapi kan tidak menuntut kemungkinan kalau aku benar
menyukainya. Danil kan anaknya tampan, baik dan juga pintar.
“
Sedangkan aku?” sambil berkaca.
“
Ah,,, aku tidak menyukainya,” teriakku.
“
Heh Put, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Fully menhampiriku.
“Nggak
kok, aku ingin bernyanyi,”
“
Nyanyi? Nyanyi lagu apa?”
“
Apa Kata Bintang- Gita Gutawa,”
Kupetik
sinar gitarku untuk memulainya. Aku pun segera bernyayi
“
Ku tak tahu apa yang terjadi. Pada hatiku ini, tak ku mengerti. Rasa ini belum
pernah ada, tak pernah kurasakan selama ini. Malu-malu aku mengakuinya, karena
aku kini belum dewasa. Berjuta cahaya datang padaku, menyayi denganku,
nyanyikan lagu tentangnya. Duhai bintang mungkinkah yang kurasa, apakah sudah
saatnya. Untukku menyukainya”
“JREEEENG”
mengakhiri lagu yang kunyanyikan.
“
Suaramu sungguh indah, aku senang mendengar ketika kamu bernyayi,” kata Danil
kepadaku.
“
Sejak kapan kamu berda disini?, terimaksih pujiannya,” jawabku cuek dan pergi
meniggalkan Danil dan juga Fully.
“
Lho? mau kemana put?”
Tak
kuhiraukan perkataan Danil dan tetap pergi ke tenda.
“
Putri kenapa sih Full?,” tanya Danil kepada Fully temanku.
“
Aku juga tidak tahu Dan, apa kalian habis bertengkar?” ujar Fully.
“
Nggak tuh, tadi pagi kami masih berkomunikasi dengan baik kok.”
“
Emm, ada apa ya dengan Putri? apa dia ada masalah ya?”
“
Aku juga tak tahu Full, coba kamu tanya kepadanya. Aku sangat
mengkhawatirkannya,”
“
Etcie... baiklah aku akan bertanya kepadanya dan semoga dia mau bercerita
banyak kepadaku.”
“
Terimakasih Full,” ditinggalkannya Fully sambil tersenyum.
Fully
pun menghampiriku yang sedang beristirahat di tenda. Dia menggodaku dan
berusaha untuk membuat aku tertawa. Fully memang teman yang jail. Aku tahu
sebenarnya dia ingin menenangkan
pikiranku supaya aku dapat bercerita kepadanya. Tetapi aku masih tak ingin
bercerita, masih kusimpan sendiri tentang apa yang kurasakan. Tiba-tiba Fully
bertanya padaku, “ Put, kamu mencintai Danil ya?” pertanyaan yang sungguh sulit
untuk kujawab.
“
Apa maksutmu? tidaklah, kami hanya berteman,” jawabku sambil kulempar senyum
kepada Fully.
“
Jangan berbohong, aku tahu kok apa yang kamu rasakan. Kamu menyimpan rasa ke
dia kan?” desak Fully.
“
Tidak mungkin aku menyukainya, aku tak ingin jatuh cinta. Usiaku masih belum
dapat dikatakan dewasa,” jawabku sambil membentak.
“
Tapi Putt, yang namanya rasa cinta itu tidak dapat ditebak kapan datangnya.
Kalau aku lihat matamu tidak dapat berbohong, caramu memandangnya jelas berbeda
dengan memandang cowok yang lain.”
“
Apa benar yang dikatakan oleh Fully, Putt?,” datanglah Danil dan bertanya
kepadaku.
“
Nggak kok,” jawabku agak gemeteran.
“
Iya juga gak papa kok, lagian aku juga udah lama menyimpan rasa kepadamu.”
Diberikannya
sekuntum bunga mawar kepadaku. Aku tetap mengelak.
“Nggak
ah, berikan mawar itu kepada Fully .”
“
Tapi kan ini buat kamu, kalau kamu memang belum siap untuk mengakuinya, aku tak
apa kok. Aku akan menunggumu,” ujar Danil.
Aku
terima mawar tersebut dan segera pergi. Kusempatkan untuk memperlihatkan
senyuman manisku ke Danil. Sepertinya Danil akan tetap menunngu cintaku.
Meskipun bertahun-tahun, dia akan tetap menunggu. Aku yakin itu, karena Danil
adalah cowok yang setia. Sebenarnya aku juga menyukainya, tapi aku malu untuk
mengakuinya. Kalian tahu kenapa?, karena aku belum cukup dewasa.
APA KATA BINTANG-GITA GUTAWA
Ku tak tahu apa
yang terjadi
Pada hatiku ini,
tak ku mengerti
Rasa ini belum
pernah ada
Tak pernah
kurasakan, selama ini.
Malu-malu
aku mengakuinya
Karena
aku kini belum dewasa.
Berjuta
cahaya datang padaku,
Menyayi
denganku, nyanyikan lagu tentangnya.
Duhai
bintang mungkinkah yang kurasa
Apakah
sudah saatnya, untukku menyukainya
Sekarang ku
sering melamun
Dan juga ku
sering bercermin, oh mengapa ini
Malu-malu aku
mengakuinya
Karena aku kini
belum dewasa
Berjuta
cahaya datang padaku,
Menyayi
denganku, nyanyikan lagu tentangnya.
Duhai
bintang mungkinkah yang kurasa
Apakah
sudah saatnya, untukku menyukainya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar